Pangkep — Herman Djide adalah sosok yang bertekad menghidupkan kembali semangat desa melalui gerakan revitalisasi lahan tidur. Di tengah fenomena yang kian lazim di banyak desa dan kelurahan—hamparan lahan luas yang tak lagi digarap, ia hadir membawa harapan.
Dahulu, tanah-tanah itu menjadi sumber kehidupan bagi warga, tempat tumbuhnya padi, sayur, dan impian. Kini, banyak yang dibiarkan tidur panjang, tertutup semak, dan kehilangan daya hidupnya. Lahan yang nganggur bukan sekadar tanda tanah yang mati, tetapi juga simbol pudarnya semangat kerja dan gotong royong masyarakat desa.
Fenomena ini mencerminkan tantangan yang lebih besar: berkurangnya produktivitas masyarakat akibat perubahan sosial dan ekonomi, serta melemahnya kepedulian terhadap potensi lokal. Melalui gerakan yang digagas Herman Djide, harapan untuk membangkitkan kembali daya hidup desa mulai menyala.
Menggerakkan Potensi Lokal dan Gotong Royong
Herman Djide, yang dikenal dekat dengan masyarakat akar rumput, melihat lahan mati bukan sebagai beban, melainkan peluang besar untuk membangun kembali ekonomi desa. Melalui pendekatan partisipatif, ia mendorong warga untuk memanfaatkan kembali lahan-lahan kosong sebagai sumber produksi pangan dan kesejahteraan bersama.
“Lahan yang dibiarkan tidur adalah potensi yang terabaikan. Kalau kita bisa menghidupkannya kembali, maka desa akan bangkit, masyarakat akan kembali punya semangat, dan ekonomi lokal akan bergerak,” ujar Herman dalam salah satu kegiatan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Pangkep.
Ia menekankan pentingnya kerja kolaboratif antara pemerintah desa, kelompok tani, dan masyarakat umum dalam mewujudkan kemandirian pangan. Gerakan ini tidak hanya soal menanam tanaman produktif, tetapi juga membangkitkan nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan yang mulai luntur.
Dari Tanah Subur ke Semangat Baru
Program pemberdayaan yang digagas Herman Djide kini mulai menunjukkan hasil. Di beberapa titik, lahan yang dulunya terbengkalai telah berubah menjadi kebun produktif. Warga kembali aktif menanam hortikultura, beternak, dan mengembangkan usaha kecil berbasis pertanian.
Lebih dari sekadar aktivitas ekonomi, gerakan ini menjadi cara untuk memulihkan semangat masyarakat desa. “Kalau tanahnya hidup, manusianya juga ikut hidup,” kata Herman. Prinsip ini menjadi landasan perjuangannya dalam membangun desa dan kelurahan agar lebih mandiri, berdaya, dan berkelanjutan.
Dengan visi tersebut, Herman Djide berharap semakin banyak pihak yang terinspirasi untuk ikut serta. Menghidupkan lahan mati bukan hanya tentang menanam kembali, tetapi juga tentang menumbuhkan harapan dan membangunkan semangat yang sempat padam di hati masyarakat desa.

















